Berita Bola – Feyenoord kembali mencuri perhatian setelah menurunkan Shaqueel van Persie dalam laga Liga Europa melawan Celtic. Penampilan itu menjadi debut senior bagi pemain berusia 19 tahun tersebut. Momen tersebut hadir hanya empat hari setelah ia pertama kali masuk skuad utama di kompetisi Eredivisie. Publik pun menyoroti keputusan itu karena Shaqueel merupakan putra dari legenda Belanda sekaligus pelatih Feyenoord, Robin van Persie.
Debut itu langsung memicu spekulasi. Sebagian penggemar menduga keputusan tersebut bernuansa emosional. Apalagi, Shaqueel sudah lama disebut sebagai penerus alami sang ayah yang merupakan ikon sepakbola Eropa. Namun, Robin van Persie segera menegaskan bahwa pilihan taktikal jauh lebih penting daripada hubungan keluarga.
Penyerang Muda dengan Proses Panjang
Shaqueel bukan nama asing bagi para pengamat sepak bola muda. Ia merupakan produk akademi Manchester City dan kembali ke Belanda pada 2017. Feyenoord melihat potensi besar dan mengikatnya dengan kontrak profesional pada 2022. Setelah itu, perkembangan Shaqueel terus menunjukkan grafik positif. Ia menonjol di kelompok usia muda dengan kemampuan menyelesaikan peluang dari berbagai sudut.
Debut senior ini dianggap sebagai buah dari proses panjang. Tidak ada hadiah instan atau perlakuan khusus. Justru, perjalanan Shaqueel menunjukkan bagaimana ia bekerja keras agar siap bersaing di level tertinggi. Karena itu, ketika Robin memasukkannya ke skuad Liga Europa, evaluasi teknis menjadi faktor utama.
Feyenoord tertinggal 2-1 saat memasuki menit-menit krusial pertandingan. Tim membutuhkan tambahan daya gedor di kotak penalti Celtic. Robin van Persie melihat Shaqueel sebagai sosok yang mampu memberi opsi baru di lini serang. Ia kemudian masuk sebagai pemain pengganti. Waktu bermainnya memang sangat singkat, tetapi kehadirannya menunjukkan kepercayaan besar dari sang pelatih.
Hanya satu menit setelah Shaqueel masuk, Celtic menambah gol. Situasi ini membuat debutnya terlihat kurang ideal. Meski demikian, Robin menegaskan bahwa momen tersebut tidak bisa dijadikan gambaran kualitas sang pemain. Menurutnya, apa yang dilakukan Shaqueel selama bertahun-tahun di akademi jauh lebih penting dibandingkan satu pertandingan yang berjalan sulit.
Robin langsung memberi klarifikasi bahwa debut Shaqueel murni berdasarkan pertimbangan teknis. Ia bahkan menyebut bahwa keputusan itu bukan kejutan jika melihat kebutuhan tim.
“Saya membuat keputusan ini sebagai pelatih, bukan sebagai ayah. Kami butuh gol,” tegas Robin setelah pertandingan.
Menurutnya, Shaqueel memiliki naluri mencetak gol dari sudut mana pun. Kualitas itu membuatnya layak diberi kesempatan. Robin menegaskan bahwa ia justru akan mengambil keputusan yang berbeda bila Shaqueel tidak siap secara profesional.
Konsistensi dalam Profesionalisme
Robin dan Shaqueel memiliki kesepakatan sejak lama. Mereka sepakat menjaga batasan profesional. Saat berada di lingkungan tim, keduanya berdiri pada posisi masing-masing. Shaqueel tidak ingin diperlakukan berbeda, sementara Robin tidak ingin mengambil risiko yang bisa memengaruhi keharmonisan tim.
“Cara saya melihat Shaqueel sama seperti pemain lain,” kata Robin. “Kami menyepakati hal itu beberapa tahun lalu ketika mulai bekerja bersama.”
Shaqueel dinilai mampu menjalani peran tersebut dengan sikap dewasa. Ia memahami bahwa setiap menit bermain harus dibuktikan lewat kerja keras dan konsistensi.
Shaqueel mencatat satu tembakan dari dalam kotak penalti Celtic. Peluang itu tidak membuahkan gol. Meskipun demikian, momen tersebut menjadi catatan berharga untuk kariernya. Ia tampil tanpa rasa gugup dan mencoba memanfaatkan kesempatan yang diberikan.
Robin menilai bahwa menit bermain tersebut merupakan bagian dari proses panjang. Ia tidak menuntut hasil instan dari pemain muda. Sebaliknya, Robin ingin Shaqueel mengumpulkan pengalaman bertahap agar siap menghadapi tekanan kompetisi senior.
Debut di Eropa selalu menjadi momen berharga untuk pemain muda. Shaqueel kini memiliki pengalaman tersebut. Baik hasil pertandingan maupun situasi sulit di lapangan menjadi pelajaran penting. Robin berharap pengalaman itu dapat membentuk karakter Shaqueel agar lebih kuat dan lebih matang.
Bangga sebagai Ayah, Tegas sebagai Pelatih
Meski bersikap profesional saat pertandingan, Robin tidak menutup perasaannya sebagai ayah setelah berada di rumah. Ia mengakui bahwa debut Shaqueel membawa kebanggaan tersendiri. Namun, momen tersebut tetap dinikmati dalam batasan yang wajar.
“Nanti ketika kami di rumah, tentu kami akan menikmati momen itu. Ia bekerja keras dan layak mendapatkannya,” ujar Robin.
Robin berharap debut ini menjadi langkah awal bagi perjalanan panjang karier putranya. Feyenoord juga diprediksi akan terus memantau perkembangan Shaqueel. Dengan kerja keras dan kesempatan bertahap, ia diharapkan bisa menjadi aset penting bagi klub di masa depan.
